Jumat, 09 November 2012

ASUHAN PADA MASA NIFAS


ASUHAN PADA IBU NIFAS

IBU NIFAS

A.   Konsep Nifas

1.    Definisi Masa Nifas
       Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. (Saleha, 2009).
       Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini 6-8 minggu. (Ambarwati, 2010).
       Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya placenta sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu (Ambarwati, 2010).

2.    Tahapan Masa Nifas
A)    Puerperium dini
       Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
B)      Puerperium intermedial
       Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
C)   Remote puerperium
        Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan (Ambarwati, 2010).

3.    Perubahan Fisiologis Masa Nifas
A)   Perubahan sistem reproduksi
1)    Involusi Uterus  
       Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
       Perubahan-perubahan normal pada uterus selama post partum dapat dilihat di bawah ini:

Tabel 1: Perubahan Uterus Masa Nifas
Involusi Uteri
TFU
Berat Uterus
Diameter Uterus
Palpasi cervix
Placenta lahir
Setinggi pusat
1000 gr
12,5 cm
Lembut/
lunak
7 hari
Pertengahan antara simpisis dan pusat
500 gr
7,5 cm
2 cm
14 hari
Tidak teraba
350 gr
5 cm
1 cm
6 minggu
Normal
60 gr
2,5 cm
Menyempit
(Ambarwati, 2010)

       Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa fundus uteri dengan cara:
a)   Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm di
 bawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm di atas pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari.
b)   Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1 cm di bawah pusat. Pada hari ke 3-4 tinggi fundus uteri 2 cm di bawah pusat. Pada hari ke 5-7 tinggi fundus uteri setengah pusat simpisis. Pada hari ke 10 tinggi fundus uteri tidak teraba.
       Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam proses involusi disebut dengan sub involusi. Sub involusi dapat disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta/perdarahan lanjut (postpartum haemorrhage).
2)    Lochea
       Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus.
A)   Lochea Rubra : lochea ini muncul pada hari 1- 4 masa  post partum, berwarna merah karena berisi darah segar jaringan sisa-sisa plasenta.
B)   Lochea Saguinolenta : Cairan berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung hari ke 4 – hari ke 7.
C)   Lochea Serosa : Berwarna kuning kecoklatan, muncul hari ke 7 – hari ke 14.
D)   Lochea Alba : Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, serabut jaringan yang mati berlangsung selama 2-6 minggu.
3)    Serviks
       Serviks mengalami involusi bersama-sama dengan uterus. Warna serviks sendiri merah kehitam-hitaman karena pembuluh darah. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat laserasi/perlukaan kecil. Karena robekan kecil yang terjadi selama dilatasi, serviks tidak pernah kembali pada keadaan sebelum hamil.
4)    Vulva dan Vagina
       Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses persalinan dan akan kembali secara bertahap dalam 6-8 minggu postpartum. Penurunan hormon estrogen pada masa postpartum berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Rugae akan terlihat kembali pada sekitar minggu ke 4
5)    Payudara (mamae)
       Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaitu sebagai berikut:
                                          a)    Produksi susu
                                          b)    Sekresi susu atau let down
B)   Perubahan sistem pencernaan
       Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan  anak. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada  waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemorrhoid, laserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup.
C)   Perubahan sistem perkemihan
       Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang puerperium mengalami sulit buang air kecil, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sphingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan.
D)      Perubahan sistem muskuloskeletal
       Ligamen-ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamen rotundum mengendur, sehingga uterus jatuh ke belakang. Mobilisasi sendi berkurang dan posisi lordosis kembali secara perlahan.
E)   Perubahan tanda-tanda vital
       Tanda-tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah sebagai berikut:
1)    Suhu
       Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 0C. Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,5 0C dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 38 0C. Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 380C, mungkin terjadi infeksi pada klien.
2)    Nadi dan pernapasan
       Nadi berkisar antara 60-80 denyutan  per menit setelah partus, dan dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat takikardia dan suhu tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitium kordis pada penderita. Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernapasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula.
3)    Tekanan darah
       Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam ½ bulan tanpa pengobatan.

4.    Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
A)   Nutrisi dan cairan
       Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan.
B)   Ambulasi
       Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan.
       Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu postpartum terlentang di tempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu postpartum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam postpartum.
 Keuntungan early ambulation adalah sebagai berikut:
1)    Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation.
2)    Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
3)    Early ambulation memungkinkan kita mengajarkan ibu cara merawat anaknya selama ibu masih di rumah sakit. Misalnya memandikan, mengganti pakaian, dan memberi makan.
4)    Lebih sesuai dengan keadaan indonesia (sosial ekonomis). Menurut penelitian-penelitian yang seksama, early ambulation tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka di perut, serta tidak memperbesar kemungkinan prolapsus atau retrotexto uteri.
       Early ambulation tentu tidak dibenarkan pada ibu postpartum dengan penyulit, misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam, dan sebagainya.
       Penambahan kegiatan dengan early ambulation harus berangsur-angsur, jadi bukan maksudnya ibu segera setelah bangun dibenarkan mencuci, memasak, dan sebagainya.
C)   Eliminasi
1)     Buang Air Kecil
       Ibu diminta buang air kecil (miksi) 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi, kalau ternyata kandung kemih penuh, tidak perlu menunggu 8 jam untuk kateterisasi.
2)    Buang Air Besar
       Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar (defekasi) setelah hari kedua postpartum. Jika hari ketiga belum juga BAB, maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per rektal. Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB, maka dilakukan klisma (huknah).
D)   Personal hygiene
       Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.
E)   Istirahat dan tidur
       Hal-hal yang bisa dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur adalah sebagai berikut:
1)    Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
2)    Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan.
3)    Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:
a)   Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.
b)    Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk    merawat bayi dan dirinya sendiri.
F)    Aktivitas seksual
       Aktivitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu masa nifas harus memenuhi syarat berikut ini:
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan ini bergantung pada pasangan yang bersangkutan.

G)   Latihan senam nifas
       Setelah persalinan terjadi involusi uterus. Involusi ini sangat jelas terlihat pada alat-alat kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi lembek disertai adanya striae gravidarum yang membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas.



DAFTAR PUSTAKA

1.    Alimul. A. 2009. Metode penelitian keperawatan dan teknik analisis data. Salemba medika. Jakarta.
2.    Azwar. S. 2011. Sikap manusia. Pustaka belajar. Yogyakarta.
3.    Brayshaw. E. 2007. Senam hamil dan nifas. EGC. Jakarta.
4.    Budiarto. 2002. Biostatistik untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat. EGC. Jakarta.
5.    Dewi. M, Wawan. A. 2010. Pengetahuan, sikap dan perilaku manusia. Nuha medika. Yogyakarta.
6.    Mellyana. H. 2003. Perawatan ibu pasca melahirkan. Puspa suara. Jakarta.
7.    Soekidjo. N. 2010. Metodologi penelitian kesehatan. Rineka cipta. Yogyakarta.
8.    Nursalam. 2011. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Salemba medika. Jakarta.
9.    Ambarwati. R.  2010. Asuhan kebidanan nifas. Nuha medika. Yogyakarta.
10.  Saleha, S. 2009. Asuhan kebidanan pada masa nifas. Salemba medika. Jakarta.
11.  Saryono. 2010. Metodologi penelitian kebidanan. Nuha medika. Yogyakarta.
12.  Solita. S.  2007. Sosiologi kesehatan. Gadjah mada university press. Yogyakarta.
13.  Sugiyono. 2009. Statistika untuk penelitian. Alfabeta. Bandung.
14.  Suparyanto. 2012. Sikap masyarakat terhadap odha. http://dr-suparyanto.blogspot.com/ di akses tanggal 24 April 2012.
15.  Widianti, A. 2010. Senam kesehatan. Nuha medika. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar